Realitas Kondisi Tenaga IT di Indonesia

Realitas Kondisi Tenaga IT di Indonesia

TOPCAREER.ID– Perkembangan teknologi di Indonesia yang kini bergerak semakin cepat, perlu dibarengi dengan tenaga bidang Information Technology  (IT) yang mumpuni. Kebutuhan akan tenaga IT profesional perlu dihadirkan agar pertumbuhan teknologi di Indonesia bisa diatur ke arah yang lebih produktif, bukan teknologi konsumtif.

Sebut saja India, yang dari segi sumber daya manusia (SDM) IT-nya bisa dibilang mumpuni. Indikasinya ya bisa dilihat dari banyaknya IT berpaspor India yang berkarier di ragam tempat termasuk Indonesia hingga Silicon Valley. Jika dibandingkan Indonesia, naif tentunya jika disebut sepadan.

Manager Technology and Digital Michael Page, Imeiniar Chandra pun setuju bahwa India memang beberapa langkah lebih maju daripada Indonesia dalam hal perkembangan teknologi, termasuk dari sisi SDM. Menurut hitungan populasi pekerja saja, kata Imeiniar, Indonesia sudah kalah jumlah dibanding India.

“Karena negara mereka dari dulu IT itu sudah di-encourage sejak masih muda. Kalau di India, kebanyakan mereka lulusan dari engineer background, atau kedokteran. Sementara, kalau di Indonesia lebih banyak ke bisnis, marketing, sales. Nah, makanya baru banget 2-3 tahun terakhir anak-anak kuliah ngambil IT lagi, computer scient,” papar Imeiniar kepada TopCareer.id.

Imeiniar mengaku bahwa ketersediaan tenaga IT berkualitas di Indonesia masih rendah sehingga tidak searah dengan permintaan pasar yang perkembangannya melaju pesat. Salah satu tenaga IT yang kini sangat dibutuhkan oleh industri adalah developer, mulai dari developer mobile, android, juga website.

“Developer itu mereka prefer untuk kerja freelance. Padahal tenaga ini punya demand yang tinggi. Second, ada product manager. Pekerjaan ini masih jarang karena product manager adalah suatu title yang baru ada 3 tahun belakangan ini.”

Di tengah kondisi tenaga IT Indonesia yang masih serba kurang itu, Imeiniar percaya Indonesia tetap bisa bersaing dengan negara lain yang memang beberapa langkah lebih maju dalam hal teknologi. Saat ini, kata dia, tenaga IT tak hanya dilihat sebagai support office saja di tiap perusahaan, melainkan bisa menjadi profesi yang memiliki prospek besar ke depannya.

“Bisa sih, tapi bukan sekarang. Mungkin tiga tahun ke depan kita akan menjadi seperti mereka. Di Indonesia ada beberapa engineer yang bagus, salah satunya berasal dari Yogyakarta, atau di Bandung kan juga sudah banyak dan enggak harus di Jakarta. Dan secara technical skill mereka juga lebih bagus,” jelas dia.

Imeiniar membeberkan, agar bisa menyusul ketertinggalan, Indonesia bisa memulainya dari edukasi teknologi atau pengadaan kursus yang memang mampu mendorong SDM Indonesia mengarah ke pemahaman teknologi secara dalam.

Ia menilai, edukasi itu juga bisa dilakukan dari universitas-universitas. Bahkan, untuk peningkatan tenaga IT di suatu perusahaan, maka perusahaan itu bisa bekerja sama dengan training center untuk melatih keahlian khusus yang orang IT butuhkan.

“Biasanya dari edukasi mereka juga, sih. Secara universitas, ada apa enggak courses yang akan supply computer scient, matematika. Dan kebanyakan tuh beberapa start up di Indonesia sudah mulai bekerja sama dengan universitas, memberikan program magang selama 1-2 bulan baru mulai bekerja. Tapi sepertinya itu agak terlalu telat karena itu baru mulai sekitar 1 sampai 2 tahun yang lalu,” ujar Imeiniar.

Ia menambahkan, beberapa universitas bahkan mulai menawarkan online class untuk profesional. Jadi jika dimungkinkan ada yang mau belajar tentang digital marketing, atau coding, ketika mereka sibuk mereka bisa lewat online.

Sementara itu, kendala lain yang menyebabkan tenaga IT di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan pasar adalah kemampuan nontechnical skill yang masih minim, seperti melakukan komunikasi dengan bahasa Inggris. Selain nontechnical skill, tenaga IT Indonesia bisa diandalkan, tergantung kebutuhannya.

“Sayangnya karena banyak perusahaan luar yang mau investasi di Indonesia, jadi ada banyak communication barier di mana orang Indonesia secara Inggrisnya tidak bisa komunikasi. Jadi salah satu yang mau aku encourage karyawan adalah cobalah bahasa Inggris, belajar leadership, atau communication skill.”

Robo Advisor Geser Peran Financial Advisor?

Robo Advisor Geser Peran Financial Advisor?

TOPCAREER.ID – Lagi, terobosan dalam dunia keuangan khususnya investasi, ada yang namanya robo advisor. Meski gaungnya telah ada lebih dulu di Amerika, namun kini perlahan sebarannya meluas. Bisa dibilang robo advisor adalah perencana keuangan bagi investor atas dasar data. Lalu bagaimana fungsifinancial advisor? Akan tergeser atau malah berdampingan?

Untuk diketahui, robo advisor ini memberikan layanan wealth management dengan memperhatikan data nasabah/investor meliputi umur, pendapatan, profil risiko, serta tujuan investasi, yang kemudian diolah membentuk algoritma atau ramuan tertentu.

Hasil dari ramuan itu kemudian dibuat advice atau rekomendasi untuk diberikan kepada nasabah/investor secara langsung melalui platform digital. Khusus untuk wealth management, fungsi robo advisor itu kelak bisa diimplementasikan di Indonesia.

Hal itu diutarakan Head of Wealth Management and Digital Business of Commonwealth Bank, Ivan Jaya. Kepada TopCareer.id ia bertutur bahwa melalui fungsi robo advisor ini pekerjaan yang semula terbatas dikerjakan manusia, akan lebih mudah dilakukan dan cakupannya pun semakin luas.

Ia menilai bahwa nantinya robo advisor itu akan berkembang dan memerlukan big data sebagai bahan ramuan informasi investor/nasbah. Jika semakin luas data yang dikembangkan, maka portofolio calon investor semakin lengkap. Dan rekomendasi yang diberikan pun sesuai dengan kondisi dan pribadi calon investor.

Jika robo advisor ke depan akan sangat berguna dalam memberikan advice terkait perencanaan keuangan, lalu ke mana fungsi seorang financial advisor? Apakah kelak financial advisor perannya bakal terganti oleh para robot investasi ini?

Ivan menjawab bahwa untuk pasar Asia akan lebih cocok dengan strategi omni-channel, yakni kombinasi antara digital (robo advisor) dan sosok manusianya sendiri. Khusus untuk Indonesia, melihat layanan wealth management masih merasa lebih nyaman apabila melihat sosok orangnya.

Namun, kata dia, ke depan Indonesia bisa mengkombinasikan robo advisor dan financial advisor menjadi satu kolaborasi yang sangat baik, melalui strategi omni channel tersebut. Layanannya bisa secara tatap muka, tetapi untuk pemberian informasi yang sifatnya inti, seperti jumlah dana yang sudah berkembang, bisa melalui platform digital.

“Kalau seorang manusia kan terbatas ya. Mungkin dia hanya bisa 200 orang, kalau robo advisor mungkin bisa 100 ribu orang. Karena melalui sistemnya. Kirim SMS 100 ribu orang daripada saya telepon 100 ribu orang, mau sampai kapan. Jadi, menurut saya adalah strategi omni-channel akan berbarengan atau berdampingan dengan future wealth management,” kata Ivan.

Ivan menambahkan, robo advisor itu akan mengelola portofolio inti investor/nasabah, yang memang tidak diutak-atik lagi. Namun, selain melihat portofolio inti, ada yang namanya portofolio satelit, di mana bisa memberikan return yang lebih optimal lagi.

Portofolio inti merupakan bagian yang dibuat untuk memberikan stabilitas serta imbal hasil yang cukup baik. Sedangkan portofolio satelit dikelola secara aktif dan didesain untuk memberikan alpha (imbal hasil tambahan).

“Jadi contohnya, ada ketegangan Korea, impact-nya bagaimana. Sebaiknya harus memperhatikan portofolio untuk mengamankan nih, itu ada di portofolio satelite. Meskipun sebagai financial advisor dia lihatnya secara keseluruhan, portofolio satelit dan core-nya juga,” ujar Ivan.

Jika Indonesia menginginkan strategi omni- channel ini diterapkan, maka butuh pengembangan yang lebih dalam ke depannya. Ia mengumpamakan bahwa dari hasil klik sosial media seseorang saja bisa diketahui rekomendasi yang tepat sesuai kepribadian orang tersebut.

“Misalnya si A di Facebook sukanya ini, klik ini ini, belanjanya ini. Kayak gitu kan sebenarnya bisa dianalisis. Berarti kan jumlahnya kan banyak. Kemudian juga ada tentang penilaian yang subjektif, jadi subjektifjudgment. Kemudian juga ada perkembangan policy, lalu update atau eksekusi dari policy tersebut, misalnya kayak gitu.”

Bagaimana cara kerja robo advisor sebenarnya? Pertama, robo advisor membutuhkan info profil risiko dari investor yang nantinya berperan penting menghasilkan portofolio investasi sesuai kebutuhan. 

Baru kemudian robo advisor mengolah data investor berdasarkan algoritma. Setelah mengolah data, robo advisor akan memberikan rekomendasi portofolio untuk investor. Secara otomatis akan membeli produk-produk investasi yang disarankan berdasarkan alokasi yang disimpan.

Kemudian, di masa yang akan datang jika keuntungan investasi tidak merata, maka proporsi dalam portofolio bisa saja berubah. Jadi, robo advisor di sini juga berperan memantau dan menyeimbangkan portofolio secara berkala. 

Minat Kerja Jadi Agen Asuransi?

Minat Kerja Jadi Agen Asuransi?

TOPCAREER.ID – Kalian pernah dapat tawaran asuransi? Biasanya lewat jalur apa? Ada penawaran asuransi melalui jalur agency atau disebut agen asuransi, ada pula penawaran dari telemarketing. Namun, data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia menyebutkan, jalur distribusi keagenan berkontribusi sebesar 45,5 persen dari total penjualan asuransi jiwa tahun 2014.

Secara garis besar, kedua jalur itu sama-sama bertujuan untuk menjual produk asuransi untuk ditawarkan kepada calon nasabah. Bedanya, kalau agen itu secara langsung, sementara telemarketing melakukan penjualan melalui telepon.

Menurut Chief Agency Officer Cigna, Dini Maharani, jalur keagenan yang menawarkan produk asuransi secara tatap muka, membuat para nasabah bisa berkonsultasi langsung mengenai perlindungan apa yang paling tepat bagi mereka.

“Biasanya kalau baru jadi agen itu, dia akan melakukan berbagai aktivitas, contohnya dia akan open booth di rumah sakit. Buka booth untuk memberikan layanan konsultasi, nanti di situ akan ada customer masuk,” kata Dini saat ditemui TopCareer.id.

Ketika melakukan promosi melalui booth, para agen akan memberikan informasi dasar seputar produk asuransi yang ditawarkan. Dan jika para nasabah ingin mengetahui lebih dalam, akan diarahkan untuk konsultasi selanjutnya di kantor atau bisa juga di rumah nasabah, tergantung perjanjian yang sudah dibuat.

Untuk menjadi agen asuransi, seseorang harus tahu betul produk yang akan ditawarkan juga pandai melakukan pelayanan secara baik. Apalagi, di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan asuransi, membuat agen harus pintar dalam menggali kebutuhan para nasabah.

“Enggak bisa disamain semua orang butuh asuransi kesehatan, enggak semua orang butuh asuransi kematian. Kuncinya know your customer. Kalau kami biasanya sih untuk nasabah, kami kasih solusi yang sesuai kebutuhan dia aja,” ujar Dini.

Dini menyampaikan, demi memperoleh agen-agen yang mampu melakukan penjualan dengan baik, Cigna memiliki on boarding program atau semacam orientation program. Cigna tidak ingin, nasabahnya dirugikan hanya karena informasi mengenai produk yang ditawarkan tidak sampai seluruhnya ke tangan nasabah.

Untuk itu, agar tidak terjadi kesalahan selama proses persetujuan, maka para agen ini dilatih berbagai hal yang bakal diperlukan selama “berperang”.

“Jadi, di situ kami bicara mengenai kode etik, produk, layanan, cara menjual yang baik, bagaimana melayani nasabah. Itu semua kami ajarkan dalam watu satu minggu penuh. Kode etik itu maksudnya melakukan penjualan secara benar, menjelaskan produk dengan benar,” papar perempuan lulusan Perbanas Institute ini.

Nantinya bagi para agen asuransi yang sukses meraih banyak penjualan, dan memiliki kinerja yang baik, tentu akan memperoleh beragam keuntungan secara materi maupun jenjang kariernya. Untuk Cigna sendiri, agen asuransi memulai kariernya sebagai agen atau insurance advisor.

Setelah sukses pada permulaan sebagai agen asuransi, maka bisa naik tingkat menjadi leader atau areasales manager. Kemudian, kata Dini, langkah karier selanjutnya sebagai regional sales manager bahkan hingga menempati posisi Dini saat ini.

“Kalau hitungan waktu untuk meraih jenjang karier itu, tergantung sih ya. Memang tergantung kinerja dari si agen itu sendiri, dan kinerja leader-nya. Enggak bisa sama 10 tahun jadi something. Itu balik lagi ke kinerja masing-masing.”

Sementara terkait keuntungan materi, Dini mengaku bahwa seorang agen yang erat kaitannya dengan bidang sales ini, memiliki penghasilan yang tak bisa dihitung secara pasti. Karena, jika berhasil melampaui target penjualan, maka akan mendapat ganjaran penghasilan yang lebih besar.

Bahkan, penghasilan agen asuransi ini kerap disebut-sebut sebagai gaji yang bisa melampaui gaji direksi perusahaan. Biasanya komisi agen asuransi berkisar 5-30 persen dari premi yang behasil dijual. Dan seorang agen asuransi umumnya tak memiliki gaji pokok, jadi pengasilan didapat hanya dari komisi.

“Kalau sales itu bisa dibilang penghasilannya unlimited ya karena enggak bisa bilang penghasilan sales itu a, b, c, jadi memang unlimited income. Tergantung dari ya seberapa giat orang itu melakukan aktivitas. Kalau target hitungannya, besar penjualan premi, bukan orang,” ujar Dini.